NEGOSIASI GENDER DALAM PRAKTIK BESIRU: PERAN IBU RUMAH TANGGA DALAM STRATEGI ADAPTASI EKONOMI KELUARGA PETANI DI DUSUN SEJARI, SUMBAWA
Kata Kunci:
Besiru, Negosiasi Gender, Keluarga Petani, Adaptasi EkonomiAbstrak
Penelitian ini mengkaji negosiasi gender dalam praktik besiru serta mengeksplorasi peran ibu rumah tangga dalam strategi adaptasi ekonomi keluarga petani di Dusun Sejari, Kecamatan Plampang, Kabupaten Sumbawa. Rumah tangga petani di wilayah pedesaan masih menghadapi ketidakpastian ekonomi akibat fluktuasi hasil pertanian, perubahan iklim, dan keterbatasan akses terhadap sumber daya produksi. Dalam konteks tersebut, besiru sebagai praktik kerja kolektif berbasis timbal balik tidak hanya berfungsi sebagai bentuk gotong royong tradisional, tetapi juga menjadi arena sosial yang merefleksikan relasi gender dalam masyarakat agraris. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan perspektif etnografi sosiologis. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi terhadap 11 informan yang terdiri atas ibu rumah tangga, petani laki-laki, dan tokoh masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu rumah tangga memiliki peran penting dalam keberlangsungan praktik besiru melalui kontribusi tenaga kerja, penyediaan konsumsi, pengorganisasian kerja, serta pemeliharaan jaringan sosial dalam komunitas. Namun, kontribusi perempuan masih termarginalisasi secara struktural karena tanggung jawab domestik dan otoritas pengambilan keputusan masih dipengaruhi oleh norma patriarki. Meskipun demikian, perempuan tetap membangun ruang agensi melalui keterlibatan aktif dalam aktivitas pertanian kolektif dan kegiatan ekonomi berbasis komunitas. Dengan demikian, besiru tidak hanya menjadi strategi adaptasi ekonomi keluarga petani, tetapi juga menjadi ruang sosial yang dinamis tempat relasi gender terus dinegosiasikan dalam kehidupan masyarakat pedesaan.
This study examines gender negotiation in the practice of besiru and explores the role of housewives in the economic adaptation strategies of farmer households in Dusun Sejari, Plampang District, Sumbawa Regency. Farmer households in rural areas continue to face economic uncertainty due to fluctuating agricultural yields, climate change, and limited access to production resources. In this context, besiru, a local collective labor practice based on reciprocity, functions not only as a traditional form of mutual cooperation but also as a social arena that reflects gender relations within agrarian communities. This study employed a qualitative descriptive approach with a sociological ethnographic perspective. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation involving 11 informants consisting of housewives, male farmers, and community leaders. The findings show that housewives play a significant role in sustaining besiru practices through labor contribution, food preparation, work coordination, and the maintenance of social networks within the community. However, women’s contributions remain structurally marginalized because domestic responsibilities and decision-making authority are still largely shaped by patriarchal norms. Despite these limitations, women continue to negotiate their roles and build agency through active participation in collective agricultural and community-based economic activities. Thus, besiru represents not only an economic adaptation strategy for farmer households but also a dynamic social space where gender relations are continuously negotiated in everyday rural life.




