PERSEPSI GENERASI MUDA TERHADAP TRADISI SEME’ SEBAGAI IDENTITAS BUDAYA WANITA; KAJIAN SOSIOLOGIS DI DUSUN PAMULUNG DESA KARANG DIMA
Kata Kunci:
Persepsi, Generasi Muda, Tradisi Seme', Identitas Budaya Perempuan, Interaksionisme Simbolik, SumbawaAbstrak
Tradisi Seme' merupakan praktik perawatan kulit tradisional menggunakan bahan-bahan alami yang telah lama diwarisi oleh perempuan Sumbawa sebagai bagian dari identitas budaya mereka. Di tengah arus modernisasi dan perkembangan teknologi yang semakin pesat, keberlangsungan tradisi lokal seperti Seme' menghadapi tantangan serius, terutama terkait pergeseran cara pandang generasi muda terhadap nilai-nilai budaya. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri persepsi generasi muda terhadap tradisi Seme' sebagai simbol identitas budaya perempuan di Dusun Pamulung, Desa Karang Dima, serta mengkaji faktor-faktor sosial yang memengaruhi pembentukan persepsi tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif teori Interaksionisme Simbolik George Herbert Mead. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap generasi muda berusia 18 - 30 tahun yang berdomisili di Dusun Pamulung. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman, yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa generasi muda di Dusun Pamulung tidak lagi memandang tradisi Seme' semata-mata sebagai praktik perawatan kulit, melainkan telah memaknainya sebagai representasi identitas kultural yang melekat pada perempuan Sumbawa. Mereka menunjukkan sikap reflektif dan aktif dalam menegosiasikan makna tradisi di tengah tekanan modernitas, sehingga memposisikan tradisi dan modernitas secara berdampingan, bukan sebagai dua hal yang bertentangan. Terdapat tiga faktor utama yang memengaruhi persepsi generasi muda: (1) pengaruh keluarga, khususnya sosok ibu dan nenek sebagai significant others yang paling dominan dalam proses pewarisan nilai; (2) pengaruh lingkungan sosial dan teman sebaya yang berperan ganda, baik sebagai tekanan modernitas maupun penguat identitas budaya; serta (3) pengaruh media dan modernitas yang berfungsi sebagai tantangan sekaligus peluang revitalisasi budaya lokal. Secara keseluruhan, tradisi Seme' memiliki potensi yang kuat untuk tetap lestari secara adaptif, didukung oleh ekosistem sosial yang terdiri dari generasi muda sebagai negosiator makna, pelaku tradisi sebagai penjaga praktik, dan tokoh adat sebagai penguat nilai budaya.
The Seme' tradition is a traditional skincare practice using natural ingredients that has long been inherited by Sumbawa women as part of their cultural identity. Amidst the rapid flow of modernization and technological development, the sustainability of local traditions like Seme' faces serious challenges, particularly related to shifts in the younger generation's perspectives on cultural values. This study aims to explore the younger generation's perceptions of the Seme' tradition as a symbol of women's cultural identity in Pamulung Hamlet, Karang Dima Village, and to examine the social factors that influence the formation of these perceptions. This study used a qualitative approach with the perspective of George Herbert Mead's Symbolic Interactionism theory. Data collection was conducted through observation, in-depth interviews, and documentation of young people aged 18–30 living in Pamulung Hamlet. Data analysis employed the Miles and Huberman model, which includes data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results show that the younger generation in Pamulung Hamlet no longer views the Seme' tradition solely as a skincare practice but rather as a representation of the cultural identity inherent in Sumbawa women. They demonstrate a reflective and active attitude in negotiating the meaning of tradition amidst the pressures of modernity, thus positioning tradition and modernity side by side, rather than as two opposing things. Three main factors influence the perceptions of the younger generation: (1) the influence of the family, particularly the mother and grandmother as the most dominant significant others in the process of inheriting values; (2) the influence of the social environment and peers, which play a dual role, both as pressures of modernity and as reinforcements of cultural identity; and (3) the influence of media and modernity, which function as both challenges and opportunities for revitalizing local culture. Overall, the Seme' tradition has strong potential for adaptive sustainability, supported by a social ecosystem consisting of the younger generation as negotiators of meaning, traditional practitioners as guardians of practices, and traditional leaders as reinforcers of cultural values.




