TRADISI MAKAN BALI SETELAH PROSESI PERNIKAHAN DI JORONG SUNGAI JARIANG KECAMATAN IV KOTO KABUPATEN AGAM PROVINSI SUMATERA BARAT

Penulis

  • Adil Rahmad Fajri Institut Seni Indonesia Padangpanjang
  • Mutia Kahanna Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Kata Kunci:

Tradisi, Adat Perkawinan, Makan Bali, Fungsionalisme

Abstrak

The makan bali tradition is one of the customs practiced by the community of Jorong Sungai Jariang, IV Koto District, Agam Regency, West Sumatra Province after the wedding ceremony. This tradition has been passed down from generation to generation and has become an important part of the Minangkabau wedding customs. This study aims to explain the implementation of the makan bali tradition and its functions for families and newly married couples. This study uses a qualitative method with data collection techniques in the form of observation, interviews, and documentation. The theory used in analyzing the data is the functionalism theory proposed by Bronislaw Malinowski. The results of the study show that the implementation of the makan bali                 tradition consists of several stages, namely mamanggia, mamasak, manatiang, and pasambahan. This tradition has important functions in community life, including a biological function as a means of fulfilling nutritional needs, an instrumental function as a means of strengthening social relationships and customary responsibilities, and an integrative function as a medium for conveying customary advice and strengthening the value of togetherness between families. This study concludes that the Bali eating tradition not only functions as a communal eating activity, but also as a social and cultural system that plays an important role in preserving customs, strengthening kinship ties, and providing moral guidance for married couples in building a household in Jorong Sungai Jariang.

Tradisi makan bali merupakan salah satu tradisi adat yang dilakukan oleh masyarakat Jorong Sungai Jariang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat setelah prosesi pernikahan. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dalam rangkaian adat perkawinan Minangkabau. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pelaksanaan tradisi Makan Bali serta fungsi yang terkandung di dalamnya bagi keluarga dan pasangan suami istri yang baru menikah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teori yang digunakan dalam menganalisis data adalah teori fungsionalisme yang dikemukakan oleh Bronislaw Malinowski. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan tradisi Makan Bali terdiri dari beberapa tahapan, yaitu mamanggia, memasak, manatiang, dan pasambahan. Tradisi ini memiliki fungsi penting dalam kehidupan masyarakat, antara lain fungsi biologis sebagai pemenuhan kebutuhan makan, fungsi instrumental sebagai sarana penguatan hubungan sosial dan tanggung jawab adat, serta fungsi integratif sebagai media penyampaian nasihat adat dan penguatan nilai kebersamaan antar keluarga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tradisi makan bali tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan makan bersama, tetapi juga sebagai sistem sosial dan budaya yang berperan penting dalam menjaga kelangsungan adat, mempererat hubungan kekerabatan, serta memberikan bekal moral bagi pasangan suami istri dalam membina rumah tangga di Jorong Sungai Jariang.

Unduhan

Diterbitkan

2026-02-28