EKSISTENSI KEBUDAYAAN LOKAL KUDA LUMPING DI ERA DIGITAL

Penulis

  • Isnaini Fadhilah Universitas Negeri Medan
  • Raihan Kaisa Fauziah Duha Universitas Negeri Medan
  • Selvi Amanda Universitas Negeri Medan
  • Rizki Putri Devira Mrp Universitas Negeri Medan
  • Khairani Liza Universitas Negeri Medan
  • Muhammad Divanda Maulidian Universitas Negeri Medan
  • Evelin Tedrin Universitas Negeri Medan
  • Lili Tansliova Universitas Negeri Medan

Kata Kunci:

Eksistensi, Kebudayaan, Kuda Lumping, Era Digital

Abstrak

Penulisan artikel ini bertujuan untuk memperdalam pengetahuan atas salah satu kebudayaan tradisional yang masih terkenal di era digital ini, yaitu, kuda lumping. Dalam era digital saat ini, dimana informasi serta hiburan sangat beragam dan mudah untuk ditemukan, namun pertunjukan Kuda Lumping tidak pernah gagal untuk memikat perhatian masyarakat.  Penelitian ini dilakukan melalui wawancara terhadap salah satu pemain atau penari Kuda Lumping di Desa Saentis, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Selain itu, penelitian ini juga dilakukan dengan mencari studi pustaka melalui jurnal, website, dan sumber informasi lainnya melalui akses internet. Penelitian ini berisi pengenalan budaya seni tari tradisional yang masih dijaga kelestariannya di Sumatera Utara, khususnya di Desa Saentis, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Kuda Lumping, atau biasa disebut oleh masyarakat dengan sebutan Jaranan, yaitu seni tari yang menggunakan properti berupa kuda yang di anyam dari belahan batang bambu yang bisa disebut dengan nama tarian itu sendiri, yakni Kuda Lumping. Selain properti tarian, Kuda Lumping juga menunjukkan atraksi kekebalan tubuh seperti makan kaca atau beling, berdiri di atas bara api, dan hal-hallain yang berbau mistis.

This article is written with the intend to deepen the understanding of one traditional culture that’s still popular in this digital period, namely Kuda Lumping. In this digital era despite information along with entertainment are diverse and easily found, Kuda Lumping has never failed to pull public attention. This research was conducted by interviewing one of the Kuda Lumping player or dancer in Saintes Village. Apart from that, this research was also carried out by searching for literature studies through journals, websites and other information with internet access. This research contains an introduction to traditional dance culture which is still preserved in North Sumatra, especially in the Saentis Region. Kuda Lumping or what people usually call Jaranan, is a dance art that uses props in the form of a horse woven from split bamboo stems which can be called by the name of the dance itself, namely Kuda Lumping. Apart from property dances, Kuda Lumping also shows immune attractions in the form of eating glass or glass, standing on burning coals, and other mystical things.

Unduhan

Diterbitkan

2026-07-29