ANALISIS DAMPAK PENGGUNAAN SMARTPHONE PADA PERKEMBANGAN REMAJA DI KELURAHAN SUNGGAL

Penulis

  • Muhammad Aimar Zaiddan Universitas Sumatera Utara
  • Agus Suriadi Universitas Sumatera Utara

Kata Kunci:

Smartphone, Perkembangan Remaja, Pengasuhan Orang Tua, Kelurahan Medan Sunggal, Penggunaan Digital

Abstrak

Smartphone telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan remaja pada era digital saat ini. Perangkat ini menawarkan kemudahan akses informasi, hiburan, dan komunikasi, tetapi juga menimbulkan risiko terhadap perkembangan remaja, khususnya pada aspek kognitif, sosial, dan emosional. Di Kelurahan Sunggal, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, penggunaan smartphone pada remaja tergolong sangat tinggi, didukung oleh infrastruktur internet yang mudah diakses, banyaknya warung kopi dan warnet dengan Wi-Fi berbiaya rendah, serta budaya berkumpul setelah pulang sekolah. Berdasarkan Teori Perkembangan Remaja (Steinberg, 2014; Erikson, 1968; Piaget, 1972), masa remaja merupakan periode rentan karena ketidakseimbangan neurologis (sistem reward yang hiperaktif dibandingkan pengendalian impuls yang belum matang), kemampuan kognitif tinggi namun pengendalian diri masih lemah, serta kebutuhan yang kuat akan identitas dan pengakuan dari teman sebaya. Teori Uses and Gratifications (Katz, Blumler, & Gurevitch, 1974) menjelaskan bahwa remaja secara aktif memilih smartphone untuk memenuhi kebutuhan hiburan, pelarian, integrasi sosial, dan ekspresi identitas. Teori Sistem Ekologi Bronfenbrenner (1979) menggambarkan bahwa pola ini diperkuat oleh lingkungan mikro (teman sebaya dan warung kopi), meso (sekolah-keluarga), ekso (kesibukan orang tua dan harga kuota murah), makro (budaya urban), serta krono (kesenjangan digital antargenerasi). Sementara itu, Teori Pengasuhan Orang Tua (Baumrind, 1991; Bowlby, 1969) menekankan bahwa gaya otoritatif dengan aturan jelas, komunikasi terbuka, dan ikatan emosi aman menjadi kunci pengelolaan yang efektif. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap tiga remaja laki-laki, tiga orang tua, dan satu warga sekitar, serta observasi partisipatif selama dua minggu di lokasi berkumpul remaja. Analisis data dilakukan melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan smartphone pada remaja di Kelurahan Sunggal sangat intensif (5–9 jam/hari), didominasi aktivitas hiburan dan media sosial. Penggunaan ini memengaruhi perkembangan kognitif dengan melemahkan pengendalian diri dan perencanaan, perkembangan sosial dengan mengurangi kualitas interaksi tatap muka meskipun meningkatkan koneksi digital, serta perkembangan emosional dengan memberikan pelarian instan namun menciptakan kecemasan ketika tidak terhubung. Peran orang tua sangat menentukan: gaya otoritatif terbukti paling efektif dalam mengurangi intensitas dan dampak negatif, sementara gaya permisif atau otoriter menghasilkan pengawasan lemah. Fenomena ini merupakan hasil interaksi ekologis yang kompleks antara kerentanan perkembangan remaja, gratifikasi instan dari smartphone, lingkungan urban yang mendukung, dan pengasuhan yang belum optimal. Penelitian merekomendasikan intervensi holistik berbasis keluarga (pengasuhan digital otoritatif), sekolah (kebijakan smartphone dan ekstrakurikuler alternatif), serta komunitas (ruang remaja sehat digital) untuk mengarahkan penggunaan smartphone menjadi lebih seimbang dan mendukung perkembangan remaja secara optimal.

Smartphones have become an inseparable part of teenagers' lives in the current digital era. These devices offer easy access to information, entertainment, and communication, but they also pose risks to adolescent development, particularly in cognitive, social, and emotional aspects. In Kelurahan Sunggal, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, smartphone use among teenagers is very high, supported by easily accessible internet infrastructure, numerous coffee shops and internet cafes with low-cost Wi-Fi, and the culture of hanging out after school. According to the Theory of Adolescent Development (Steinberg, 2014; Erikson, 1968; Piaget, 1972), adolescence is a vulnerable period due to neurological imbalance (hyperactive reward system compared to immature impulse control), high cognitive abilities but weak self-regulation, and strong needs for identity and peer recognition. The Uses and Gratifications Theory (Katz, Blumler, & Gurevitch, 1974) explains that teenagers actively choose smartphones to fulfill needs for entertainment, escape, social integration, and identity expression. Bronfenbrenner's Ecological Systems Theory (1979) illustrates that this pattern is reinforced by the microsystem (peers and coffee shops), mesosystem (school-family), exosystem (parents' busyness and affordable data packages), macrosystem (urban culture), and chronosystem (intergenerational digital gap). Meanwhile, the Theory of Parental Parenting (Baumrind, 1991; Bowlby, 1969) emphasizes that an authoritative style with clear rules, open communication, and secure emotional bonds is the key to effective management. This research is qualitative in nature, using data collection techniques through in-depth interviews with three male teenagers, three parents, and one local resident, as well as participatory observation for two weeks at teenagers' hangout locations. Data analysis was carried out through stages of data collection, data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The research results show that smartphone use among teenagers in Kelurahan  Sunggal is very intensive (5–9 hours/day), dominated by entertainment activities and social media. This use affects cognitive development by weakening selfregulation and planning, social development by reducing the quality of face-toface interactions despite increasing digital connections, and emotional development by providing instant escape but creating anxiety when disconnected. The role of parents is highly determining: an authoritative style proves most effective in reducing intensity and negative impacts, while permissive or authoritarian styles result in weak supervision. This phenomenon is the result of complex ecological interactions between adolescents' developmental vulnerabilities, instant gratification from smartphones, a supportive urban environment, and suboptimal parenting. The research recommends holistic interventions based on family (authoritative digital parenting), school (smartphone policies and alternative extracurriculars), and community (healthy digital youth spaces) to direct smartphone use toward a more balanced approach and optimally support adolescent development.

Unduhan

Diterbitkan

2026-04-29